This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, July 30, 2012

KEWIRASWASTAAN




A.  PENGERTIAN WIRASWASTA

Kata Wiraswasta berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu dari kata WIRA dan SWASTA. WIRA artinya Pahlawan, sedangkan SWASTA artinya partikelir. Jadi WIRASWASTA berarti pahlawan dalam bidang partikeliran (non-pemerintah) atau pahlawan dalam bidang usaha. Ia memiliki jiwa pioneer, keberanian, keutamaan, keuletan dan ketabahan.

Kewiraswastaan (Entrepreneursip) merujuk kepada mental dan  kepribadian tertentu yaitu keberanian mengambil resiko, keutamaan, kreatifitas, inovatif,  ketabahan kesungguhan, keuletan dan keteladanan dalam menangani usaha atau perusahaan dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri.

Menurut F.Harbison 1), kewiraswastaan melaksanakan 3 fungsi pokok, yaitu
  • Penanggung resiko
  • Inovasi dan
  • Manajemen

Menurut Salim Siagian 2) “Kewiraswastaan adalah kesatuan terpadu dari semangat, nilai-nilai dan prinsip serta sikap, kiat, seni, dan tindakan nyata yang sangat perlu, tepat, dan unggul dalam menangani dan mengembangkan perusahaan atau kegiatan lain yang mengarah pada pelayanan terbaik kepada pelanggan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan termasuk masyarakat, bangsa dan negara”

McClelland merinci karakteristik wiraswasta dengan konsep yang ia sebut need for achievement (N-Ach) yang diartikan sebagai virus kepribadian yang menyebabkan seseorang ingin selalu berbuat lebih baik dan terus maju, selalu berpikir untuk berbuat lebih baik dan memiliki tujuan yang realistik dengan mengambil risiko yang benar-benar telah diperhitungkan.

Uang bagi wiraswasta bukanlah tujuan. Dia tertarik kepada imbalan uang atau keuntungan terutama karena merupakan umpan-balik yang dapat mengukur pencapaian hasil dari pekerjaannya. Uang bagi wiraswastawan sejati bukanlah perangsang berusaha, tetapi lebih merupakan ukuran keberhasilan.

Secara rinci Mclelland merumuskan karakteristik mereka yang memiliki N-Ach tinggi, sebagai berikut :

  • Lebih menyukai pekerjaan dengan resiko yang realistis
  • Bekerja lebih giat  pada tugas-tugas yang memerlukan kemampuan mental
  • Tidak menjadi bekerja lebih giat dengan adanya imbalan uang
  • Ingin bekerja pada situasi yang dapat diperoleh pencapaian pribadi (personal Achievement)
  • Cenderung berpikir ke masa depan dan memiliki pemikiran jangka panjang.

Ukuran N-Ach dapat menunjukkan bagaimana jiwa wiraswastaan seseorang. Makin tinggi nilai N-Ach seseorang, makin besar pula bakat potensialnya untuk menjadi wiraswastaan sukses.

Julian B.Rotter mengemukakan konsep lain tentang pengukuran N-Ach ini dengan istilah locus of control internal. Mereka yang sukses dalam bisnis adalah mereka yang merasa bahwa keberhasilan lebih ditentukan oleh usaha-usaha pribadi, adanya perjuangan atau motivasi dari dalam untuk mencapai kemandirian. Locus of internal berkeyakinan bahwa mereka memiliki control atas lingkungannya. Sebaliknya locus of conrol eksternal adalah mereka yang kurang memiliki control atas lingkungannya. Lebih mengandalkan faktor nasib atau keberuntungan.
Memang masih belum ada kesepakatan dari para ahli tentang jiwa kewiraswastaan ini.
John A.Hornaday dan John About menekankan kewiraswastaan pada nilai kemandirian (independence)
Michael Palmer lebih menekankan pada factor kemampuan untuk mengambil keputusan dalam ketidakpastian, dan persepsi seseorang dalam menangani risiko.

B.F. Hoselits, menekankan pada kepemimpinan dan dalam pengenalan inovasi
Fidel Muhammad menyebutkan bahwa wiraswastawan adalah penentu risiko, yang aktif berinovasi dan berusaha memperkecil risiko, sehingga dia benar-benar paham dan sadar akan risiko yang dihadapi (risiko yang terukur dan dibatasi).

Wiraswastawan adalah seseorang yang memiliki kemampuan kreatif, mampu menghasilkan ide-ide dan menerapkannya sehinga menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menguntungkan.

Profil (Ciri dan watak) wiraswasta dapat disimpulkan sebagai berikut :

CIRI
WATAK
Percaya diri
Keyakinan,kemandirian, individualitas, optimisme
Berorientasi tugas
Kebutuhan akan prestasi, berorientasi hasil, keras, mempunyai dorongan kuat, dan enerjit
Pengambil risiko
Kemampuan mengambil risiko, suka pada tantangan
Kepemimpinan
Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain
Orisinalitas/gemar membaca
Fleksible, punya banyak sumber, serba bisa, mengetahui banyak hal
Berorientasi ke masa depan
Pandangan ke depan, perseptif

Watak wiraswasta bila didentifikasi dan dirinci maka kita akan menemukan 25 atribut sebagai berikut :

-          Berwatak maju
-          Bergairah dan mampu menggunakan daya penggerak dirinya
-          Berpandangan positif dan kreatif
-          Lebih mengutamakan memberi daripada meminta, apalagi mengemis
-          Ulet dan tekun, tidak cepat putus asa
-          Pandai bergaul
-          Memelihara kepercayaan
-          Berkepribadian yang menyenangkan
-          Selalu ingin meyakinkan diri sebelum bertindak
-          Menolak cara berpikir, bersikap dan berbuat negative
-          Sangat menghargai waktu
-          Memelihara seni berbicara dan kesopanan
-          Tidak ragu atau khawatir akan saingan yang tumbuh
-          Bersedia melakukan pekerjaan kasar
-          Tidak mementingkan diri, rakus alias serakah
-          Setia kawan
-          Menghoramati tertib hukum
-          Tidak berlebihan dalam hal apapun
-          Tidak gila pangkat dan  gelar
-          Tidak gila kekuasaan
-          Selalu tepo seliro
-          Selalu mengejar martabat dan kehormatan diri
-          Menahan diri untuk membeli, tapi tidak kikir pada dirinya
-          Beriman dan berbuat kebaikan sebagai syarat kejujuran pada diri sendiri


B.  PEDAGANG DAN WIRASWASTAWAN

          Wiraswasta berbeda dengan berdagang. Sering kita mendengar dalam masyarakat kalimat “Saya mau berwiraswasta, tetapi tidak punya modal”. Dengan mengucapkan kalimat itu jelas bahwa ia tidak mengerti tentang kewiraswastaan, ia menyamakan kewiraswastaan dengan berdagang. Berdagang memang diperlukan modal (uang) dalam proses dagang tapi kewiraswastaan tidak harus memiliki modal uang. Meskipun berwiraswasta memang didalamnya ada unsur dagang dan unsur-unsur mencari keuntungan atau laba. Dengan kata lain dagang atau berdagang atau bisnis adalah bagian dari wiraswasta.

            Berdagang adalah pekerjaan seorang pedagang, ia memerlukan modal  uang untuk memulai usaha dagangannya. Seorang wiraswastawan, tidakmenanyakan modal untuk memulai usaha. Ia justru pencipta modal untuk direktur-direkturnya atau para manajernya. Seorang wiraswastawan adalah pemilik (owner) dari suatu usaha dan mengangkat orang lain menjadi direktur atau manajer. Bila kita ringkas perbedaan keduanya dapat simpulkan sebagai berikut :


Pedagang
Wiraswasta
Memulai usaha dengan modal /materi
Memulai usaha dengan ide
Tergantung pada produk dan pasar
Tidak tergantung pada produk dan pasar
Hanya jual- beli
Jual beli ok, memproduksi bisa
Tak dapat menentukan harga
Dapat menentukan harga
Mengutamakan keuntungan
Keuntungan hanyalah efek samping dari usahanya
Tak dapat menciptakan pasar
Dapat menciptakan pasar
Tidak harus berjiwa pemimpin
Berjiwa pemimpin
Perhitungannya untung rugi
Perhitungannya  sukses atau gagal
Perlu menguasai ilmu dagang
Harus menguasai berbagai bidang ilmu

Jadi jelaslah bahwa pedagang berangkat dari modal uang sedangkang wiraswasta modal baginya dikaitkan dengan ide atau gagasan, waktu, kesempatan, keterampilan, pendidikan dan pengalaman.



C. POSISI WIRASWASTA DIBANDING PROFESI LAINNYA

Pada umumnya orang menyamakan antara pekerja lepas dan wiraswasta. Orang pekerja lepas bila mengisi suatu form umumnya diisi dengan menulis wiraswasta pada kolom pekerjaan. Ini tidak salah karena sama-sama swasta, tapi antara keduanya ada ciri-ciri yang membedakan keduanya.

Untuk menggambarkan lebih lanjut posisi wiraswasta, kita coba uraikan melalui pendekatan quadrant “memimjam istilah” yang diterangkan oleh Robert T, Kiyosaki dalam bukunya “The CASHFLOW Quadrant sebagai berikut :


 

EB
                                                                                              E= Employee
                                                                                                           S= Self-Employed
                                                                                                           B=Business Owner
SI
                                                                                              I = Investor





Sisi kiri terdiri dari E dan S.

E (Employee) jelas bukan wiraswasta karena dia adalah pegawai (Misalnya pegawai negeri atau pegawai swasta) yang hanya mengandalkan slipn gaji untuk menutupi semua tagihan.

S adalah pekerja lepas (selft-employee), orang yang melakukan suatu usaha yang mandiri tampa majikan, dan dalam bekerja tidak tidak memperhitungkan untung rugi misalnya dokter, akuntan, tukan cukur, notaries dan petani. Pendapatan mereka hanya sekedar untuk dirinya dan keluarganya. Bila tidak bekerja misalnya pergi berlibur, maka ia tidak mendapatkan pendapatan. Tidak menanggung resiko kerugian.


Sisi kanan kwadran terdapat B dan I

B (Business owner) adalah orang yang memiliki pendapatan dari hasil usaha mandiri, memperhitungkan untung rugi dalam bekerja. Tukan cukur, dokter, akuntan, notaris bisa saja  bergeser menempati  Quadran kanan B bila ia secara bersama-sama melakukan suatu usaha dalam suatu tempat tertentu, dan dalam proses bekerjanya diatur oleh system.  Jadi walaupun  pergi berlibur ia tetap berpenghasilan karena perusahaan mencari uang untuk dirinya. Inilah wiraswasta.
I (Investor) adalah orang yang memiliki pendapatan dari uang yang ditanamkan pada suatu usaha. Uang mencari uang. Investor umumnya tidak terlibat langsung pada proses perusahaan.

Seseorang yang menempati  pada posisi kiri (posisi E dan S) umumnya berkeinginan bergeser posisi ke kanan (B dan I) hanya ketakutan kehilangan kepastian saja  sebagai penghambat utama. Sebaliknya orang yang sudah diposisi kanan umumnya tidak akan mau bergeser keposisi kiri, terkecuali ada peristiwa yang luar biasa.


C.  SIKAP MENTAL WIRASWASTA

Seorang wairaswastawan adalah seorang pioneer, seorang pemimpin dan pemimpi, seorang komando, perencana, sekaligus pencipta modal dan pasar. Orang sering mensinonimkan wiraswasta dengan entrepreneur. Benar menurut pengertian barat. Tapi wiraswasta dalam pengertian sesungguhnya adalah menyangkut mental dan moral. Mental seorang wiraswastawan berbeda dengan mental seorang entrepreneur. Seorang entreprenerur cenderung kepada penciptaan keuntungan semata tampa pertimbangan mental dan moral. Pola pikirannya adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, bahkan kalau perlu tak perlu berkorban. Kewiraswastaan atau entrepreneurship ala Eropa dan Amerika meskipun juga berangkat dari ide dan gagasan-gagasan tapi tetap  ditunjang oleh modal berupa uang dan sarana-sarana bisnis lainnya. Bagi pengertian sesungguhnya kewiraswastaan berangkat dari modal uang NOL tapi full ide. Bertindak dengan penuh perjuangan, kejujuran dan penuh tanggungjawab. Sangat berbeda cara berpikir ala Eropah dan Amerikan yang hampir menghalalkan segala cara asal mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dan usahanya maju.

            Wiraswasatawan sesungguhnya adalah pejuang, penentu dan pemimimpin dalam pelaksanaan ide-idenya. Pantang baginya menyerah, pantang baginya menjadi anak buah. Sehingga mottonya adalah “Lebih baik kepala Kucing dari pada ekor harimau”. Lebih baik buka bengkel kecil tempat ia jadi kepalanya daripada jadi tukan ketik, tukan antar surat atau tukan sapu di perusahaan besar. Tak pernah terpikir baginya untuk bekerja sama orang lain. Tak pernah berpikir menjadi bawahan atau diperintah orang lain. Bill Gate pemilik perusahaan Microsoft memutuskan untuk keluar dan dropout dari kuliahnya untuk berwaraswasta. Setelah 6 tahun kemudian kawannya yang baru saja menyelesaikan kuliahnya datang melamar dan memberikan gaji yang besarnya tak lebih dari  satupersen dari pendapatannya.

Orang-orang yang tak memiliki jiwa kewiraswastaan berkata “Biarlah saya bekerja dengan gaji kecil asal bekerja diperusahaan besar atau menjadi pegawai negeri karena ada uang pensiunnya”. Ia merasa terhormat bekerja disana dalam gedung yang besar walaupun sekedar tukan ketik dengan gaji tanggung bulan. Ini adalah cara berpikir lama. Orang-orang wiraswastawan akan berkata terhadap orang seperti ini sebagai orang-orang bermental kurang sehat. Tidak punya keberanian hidup, tidak berani berbuat dan berdiri sendiri alias orang miskin akan ide-ide serta pengetahuan kurang. Bermental priyayi, mentalitas pegawai negeri, mentalitas ketergantungan kepada orang lain. Orang yang yang tidak memiliki jiwa kewiraswastaan tidak menilai tinggi motif berprestasi.

Seorang wiraswasta memiliki pandangan hidup yang sehat, terlebih terhadap pengalaman yang dialami.
Sikap berikut akan membantu membangun kondisi mental wiraswasta :

-          Mengetahui arti kepuasan dalam bekerja dan bangga atas prestasi yang diraih
-          Mendayagunakan fungsi  otak untuk memikirkan cara yang terbaik
-          Mampu mengontrol emosi
-          Menggunakan imajinasi secara baik, tidak tepaku pada kegiatan harian
-          Membangun rasa humor yang menyegarkan kehidupan
-          Mengorganisasikan pikiran secara baik, siap menghadapi masalah yang dtang berikutnya.

Wiraswastawan berusaha untuk mengendalikan keadaan bukan larut terbawa oleh perusahaan. Mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.

Beberapa sikap mental positif yang dapat dikembangkan antara lain :

-          Jaukan diri dari pikiran atau ide negative
-          Berpikir positif
-          Jauhkan diri dari sikap prasangka buruk
-          Berteman dengan orang-orang wiraswastaan
-          Tetap awas dan tanggap terhadap perubahan
-          Cari dan ciptakan lingkungan yang baik
-          Berupaya meningkatkan percaya diri
-          Percaya atas kemampuan sendiri
-          Hilangkan beban mental, hilangkan konflik secepatnya.

Beberapa sikap kebiasaan dan kebiasaann yang perlu dilakukan yaitu :

-          Mulailah bekerja lebih pagi, bangunlah lebih awal dari orang lain. (Pepatah cina “ Bila mau berhasil dalam usaha janganlah  engkau kena sinar matahari”)
-          Rencanakan kegiatan besok sesaat menjelang tidur malam
-          Lakukan secara konsisten hal-hal yang baik. Mampu mengontrol emosi


D.  MENJADI WIRASWASTA YANG BERHASIL

Banyak keinginan mudah diraih, tapi keinginan untuk sukses atau berhasil tidak semua orang bisa. Kata berhasil identik dengan sukses. Kesuksesan  sesungguhnya adalah kata-kata yang berdimensi tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Bagi masyarakat miskin, Robin Hood adalah pahlawan dan pemimpin yang sukses, tapi bagi penguasa mencapnya sebagai penjahat atau pencuri. Dipandang dari banyaknya mobil yang berderet, rumah mewah dan kekayaan materi yang dimiliki, maka kesuksesan tersebut semata dilihat dari dimensi materi. Kesuksesan juga bisa dipandang dari sisi gelar akademis, atau bahkan dipandang dari dimensi kekuasaan misalnya jadi gubernur, menteri dll.

Jarang ada orang yang berhasil dalam segala bidang. Ada orang berhasil dibidang perkebunan tapi tidak sedikit yang tumpur dibidang itu. Ada orang yang berhasil dibidang usaha rias pengantin tapi tidak sedikit yang gagal. Artinya bahwa semua bidang menghasilkan orang-orang sukses dan dalam waktu yang sama juga menghasilkan orang-orang gagal.  Pertanyaannya, mengapa ada orang berhasil sedangkan yang lainnya tidak berhasil?

Sebagaimana dalil Euclides yang terkenal itu menyisyaratkan, bahwa dua garis lurus tak akan dapat mengurung sesuatu ruang, maka keberhasilanpun mempunyai dalil-dalil juga. Keberhasilan juga mempunyai kebenaran-kebenaran yang nyata yaitu sesuatu yang harus dilakukan bilamana ingin berhasil. Berbagai cara dan usaha orang untuk bisa mencapai kesuksesan. Ada yang sukses kerena ketekunan, keuletan dan kerja keras, ada pula sukses karena keberuntungan. Konseptor berpikir lateral, Edward de Bono, memberikan dalil untuk mencapai  sukses yaitu  “bertekad melakukan sesuatu dan berhasil melakukannya”.

Sedangkan Syahrial Yusuf dalam bukunya “Kiat sukses Menjadi Pengusaha” merumuskan 5 kunci keberhasilan berusaha yaitu :

1.     Wirasawstawan harus memiliki VISI
Pengusaha yang sukses selalu memiliki visi atau gambaran kongrit tentang wujud masa depan dirinya dan perusahaannya. Apakah itu gambaran 5 tahun atau 10 tahun kedepan.
Setelah menetapkan visi ia senantiasa melakukan aktivitas peribadi dan usaha berdasarkan visi dengan membuat rencana-rencana yang strategis masa depan secara hati-hati dan konsisten.

2.     Wiraswastawan harus BERPIKIR POSITIF
Pengusaha yang sukses akan selalu berpikir positif kepada semua orang, seperti kepada relasi, karyawan, keluarga, tetangga dan lingkungan dimana ia berusaha.



3.     Wiraswastawan memiliki KONSEP HIDUP
Kesuksesan seorang pengusaha sangat ditentukan sejauh mana ia mampu menterjemahkan konsep hidup dalam aktivitas sehari-hari, baik pada keluarga, lingkungan sosial, masyarakat. Konsep hidup merupakan gambaran yang integral dan komperehensif mengenai apa, siapa kapan, dan bagaimana seorang menjalani hidup.

4.     Wiraswastaan BERUSAHA MENGURANGI KELEMAHAN
Kunci sukses lain yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha  adalah menyadari kelemahan diri dan berusaha untuk terus-menerus memperbaikinya. Diantaranya dengan melakukan kegiatan belajar secara kontinyu baik secara formal maupun pada lembaga-lembaga pendidikan  atau tempat-tempat kursus ataupun secara otodidak melalui kegiatan membaca.
Bagi pengusaha sukses, proses belajar merupakan kebutuhan hidup yang tak pernah putus baik dalam pendidikan formal maupun melalui pengamatan dimasyarakat.



5.     Wiraswasta HARUS BEKERJA DI ATAS RATA-RATA

Yang membuat pengusaha sukses dan bisa menikmati fasilitas hidup lebih baik dari orang lain, karena ia menjalani hidup diatas rata-rata orang lain. Jika orang ingin menjadi pengusaha sukses, kuncinya ia harus menjalani hidup minimal 10 % diatas rata-rata orang lain. Orang yang menjalani hidup diatas rata-rata orang lain aktualisasi dirinya akan terus meningkat.

Untuk bisa menjalani hidup diatas orang lain, ia harus merasa tertekan dengan menciptakan tantangan baru, seperti tekanan untuk bersaing dengan pengusaha lain, tekanan untuk menghasilkan produk baru dan berkwalitas atau tekanan dari rasa takut bangkrut dan jatuh miskin.









DAFTAR PUSTAKA


-          Herbert N.Casson, Petunjuk Praktis Dalam Berusaha, Surabaya 1981
-          Drs. Salim Siagian,MBA, Kewirausahaan Indonesia, Puslatkop dan PK, Jakarta 1997
-          Arman Hakim Nst dkk, Membangun Spirit Entrepreneur Muda Indonesia, Surabaya 2001.
-          Syahrial Yusuf,MBA, Kiat Khusus Menjadi Pengusaha, Jakarta, 1998
-          Robert T.Kiyosaki, The CashFlow Quadran, Jakarta, 2003
-      Yose Rizal Sidi Marajo, Sikap Mental  Wiraswasta, Surabaya, 1991

Usury laws



Those who devour usury can not stand but as stands one whom possessed by reason of insanity. That is because they say that buying and selling the same as usury. Though God has trade and forbidden usury. Anyone who gets a warning from his Lord, then he stops, then what has been gained before his and his business (up) to God. Whoever repeats, they were of the Fire, to dwell in it. (Q.S. al-Baqarah 2: 275)

Based on the above verses, Allah has forbidden usury outright and justify the purchase to his people.
Then, based on the science of jurisprudence, there are four types of riba known as riba, which is as follows:
A. Riba Fadl
2. Riba Nasi'ah
3. Riba Ignorance
4. Riba Qard

A. Riba Fadl
Riba is also known as riba fadl Buyu ', which is due to the exchange of usury which timbulk similar items that do not meet the same criteria of quality (bi mistlan mistlin), the same quantity (sawa sawa's bi-in) and at time of delivery (bi yadan Yadin). Exchange of this type contain gharar, which is unclear for both sides of each item will be exchanged. This ambiguity can lead to unjust action against either party, both parties, and other parties.
Here's an example of riba fadl with ketidakjelasannya
When the Jews lost the war Khabair, their property taken as spoils of war (ghanimah), including jewelry made of gold and silver. Of course jewelry is not a Muslim and Muslim styles are simple. Therefore, the Jews tried to buy yanng jewelry made of gold and silver, which will be paid using money made of gold (dinar) and silver (dirhams). So if this is not the shape explored trading activities but the exchange of similar goods. Gold and silver exchanged for gold and vice versa.
Silver jewelry that weighs the equivalent of 40 dirhams (one uqiyah) sold by the Muslims to the Jews sehargha two or three dirhams, whereas those with heavy jewelry and a lot more than uqiyah 2-3 dirhams. So based on that illustration above can dikonklusikan experienced obscurity (gharar) in the value of silver jewelry and coin.
Hearing this the Prophet. Said:
"From Abu Said al-Khudri ra, the Prophet SAW. Said; Transaction exchange gold for gold should be the same proportion, balance, and hand to hand (cash), the excess is riba; silver with silver should be the same dose, weight, and hand to hand (cash), the excess is riba; grain of wheat must the same dose, weight, and hand to hand (cash), the excess is riba; flour with the flour should be the same dose, weight, and hand to hand (cash), the excess is riba; palm to palm to be the same dose, weight, and hand to hand (cash), the excess is riba; salt with salt should be the same dose, weight, and hand to hand (cash), the excess is riba "(Reported by Muslim)
Beyond the six types of goods are permitted provided that the assignment carried out at the same time. Saw Apostle. Said:
"Do you deal with two a dinar dinars; one dirham coin with two: one sha 'with two sha' because I'm worried about usury (al-rama). One asked: O Apostle, what if one sells a horse with some horses and a camel with a few camels? The Prophet replied: "Why not, as long as is done by hand to hand (direct)" (Muslim)
Indeed, basically a little difficult to understand clearly the meaning of riba fadl, but according to the Hadith above we can conclude that we should not exchange the goods are similar but different measure, quality, or of aspects of the submission (must be in cash) this is because there will be gharar and will rise from obscurity, riba fadl.
So we can conclude that for riba fadl unequal exchange of goods and measuring quality for similar items made of gold, silver, wheat, flour, dates, and salt, not good takutna dilakuakan as this would cause usury. But if the exchange of objects that are not similar though different numbers it is possible as this form of trading action (not usury) as long as it is done directly from hand to hand (cash).
Later in banking practices, riba fadl can be found in foreign exchange transactions are not dilakuakan with cash (spot). Because the foreign exchange it in the form of money (paper), paper exchanged for paper (in cash), but the exchange is different. Eg 1 USD exchanged to USD 9084, so it is usury.

2. Riba Nasi'ah
Riba nasi'ah also known as the throngs of usury usury arising from debts that do not meet the criteria with risk of profit arise (al ghunmu ghunmil bil) and results of operations together with the costs arise (al-bil kharaj dhaman). This transaction contains the exchange of the obligation to bear such a burden, just as time passes.
Nasi'ah is the suspension of the delivery or receipt of goods exchanged usury usury with other types of goods. Riba nasi'ah munncul because of differences, changes or additions anatra today delivered the goods with the goods delivered later. So ghunmu (fortunately) appear in the absence of al-ghurmi (risk), results of operations (al-kharaj) appear without a fee (dhaman); al-kharaj and dhaman emerge only with time. Though the business has always had a profit and loss. Ensure something beyond human power is a form of kezhaliman. Yet that is precisely what happened in nasi'ah usury, which is supposed to be treating something uncertain (not certain) to be Certain (definitely). Obligation to bear the burden of exchange (exchange of lialbility), can lead to action against the wrongdoers, both parties, and other parties.
In conventional banking, usury rice; ah can be found in mortgage interest payments and interest payments on deposits, savings, current accounts, and others. Bank as a lender that provides loans require interest payments in the amount fixed and determined in advance at the beginning of the transaction (fixed and predetermined rate). Though customers who get a loan that does not benefit a fixed and predetermined, too, because in business there is always a possibility of loss, breakeven or profit can not be determined from the beginning. So, put on the interest rate for a loan is an act that ensures something that is uncertain, and this is forbidden.
Concluded that an nasi'ah usury when something must be not a sure thing, and at the time of the borrowing and lending transactions, then set the return is more than the amount lent is called usury nasi'ah.
The supporters of the concept of basing their arguments flowers to the principle of time value of money which is defined sebagaio follows:
A dollar today is worth more than a dollar in the future Because a dolla today can be invested to get a return
This definition is not accurate because each investment has always had a chance to get a positive return, negative, or BEP (break event point). That is why the theory of finance, has always known risk-return relationship. This risk can not be ascertained, and if confirmed could lead to riba nasi'ah.
3. Riba Ignorance
Riba Jahiliyyah is the debt exceeds the principal amount is paid when the borrower can not recover the debt within a defined time period. Riba is prohibited because of a violation jahilliyah rule "Kullu Qardin Manfa'atan fahuwa Riba" (any loan benefit is riba). Lending is a transaction tabarru 'yahni (Qard) while the benefit is a commercial transaction (tijarah). So which of the original transaction as a transaction diniatklan dibah goodness should not be a commercial transaction or business motivated.
In terms of surrender included as usury usury jahilliyah nasi'ah and similarities in terms of objects that are exchanged, considered riba fadl. Qurtuby commentary explains:
"In the days of Jahiliyyah its creditors, have matured pabila would say to the debtor;" Lunaskan your debt now, or you delay it by an additional payment ". Then the debtor and creditors to pay an additional waiting time of payment of the new "(Tapsir Qurtuby, 2/1157).
Dala conventional banking, usury jahilliyah can be found in the imposition of interest on credit card transactions are not fully paid the bill.

Riba transactions
Riba Fadl  foreign exchange transactions in cash.
Riba Nasi'ah  mortgage interest payments, and receipt of interest on savings, depodito, and demand deposits.
 Jahilliyah usury credit card transactions that are not paid in full.



Created By >> Gusti Pares
Faculty of Economics and Business
Sriwijaya University

Saturday, July 14, 2012

Bahasa Hokkien

Mau belajar bahas Hokiien ??? ayo nih liat...
ANGKA DALAM BAHASA HOKIEN
1 = it
2 = Ji/No (spesial untuk ratusan/ribuan/puluh ribuan/jutaan)

3 = sa
4 = si
5 = go
6 = lak
7 = cit
8 = pek
9 = kau
10= cap
11 = cap it
12 = cap ji
13 = cap sa
14 = cap si
15 = cap go
16 = cap lak
17 = cap cit
18 = cap pek
19 = cap kau
20 = ji cap
21 = ji cap it
22 = ji cap ji
23 = ji cap sa
24 = Ji cap si
25 = ji go
50 = go cap
60 = lak cap
70 = cit cap
80 = pek cap
90 = kau cap
Dulu masih ada 25/50 perak (rupiah) = tun
Rp 5 = go tun
R0 10 = cap tun
Rp 25 = ji go tun
Rp 50 = go cap tun
Rp 100 = ce pek tun
RATUS = Pek
100 = Ce pek
150 = pek go
200 = no pek
250 = no pek go
300 = sa pek
400 = si pek
500 = go pek
600 = lak pek
700 = cit pek
800 = pek pa tun
900 = kau pek
RIBUAN = Ceng
1000 = seceng, secengan = ribuan
1500 = ceng go
2000 = no ceng
2500 = no ceng go
3000 = sa ceng
4000 = si ceng
5000 = go ceng
6000 = lak ceng
7000 = cit ceng
8000 = pek ceng
9000 = kau ceng
10 ribu = ceban, 10.000an = cebanan
15 ribu = ban go
20 ribu = no ban
25 ribu = no ban go
30 ribu = sa ban
35 ribu = sa ban go
40 ribu = si ban
45 ribu = si ban go
50 ribu = go ban
60 ribu = lak ban
70 ribu = cit ban
80 ribu = pek ban
90 ribu = kau pan
100 rb = ce pek ceng
125 rb = pek ji go (umumnya org ngerti itu u/ 125 ribu)
110 ribu = pek it
120 ribu = pek ji
130 rbiu = pek sa
140 ribu = pek si
150 ribu = pek go
160 ribu = pek lak
170 ribu = pek cit
180 ribu = pak pek
190 ribu = pek kau
200 rb = nopek ceng
250 rb = nopek go
300 rb = sa pek ceng
350 rb = sa pek go
400 rb = si pek ceng
500 rb = go pek ceng
600 rb = lak pek ceng
700 rb = cit pek ceng
800 rb = pek pak ceng
900 rb = kau pek ceng
JUTA = Tiao
1 juta = ce tiao
1.1 juta = tiao it
1.2 juta = tiao ji
1.3 juta = tiao sa
1.4 juta = tiao si
1.5 juta = tiao puah = sejuta setengah
1.6 juta = tiao lak
1.7 juta = tiao cit
1.8 juta = tiao pek
1.9 juta = tiao kau
2 juta = no tiao
2.1 juta = no tiao it
2.2 juta = no tiao ji
2.3 juta = no tiao sa
2.5 juta = no tiao puah
3 juta = sa tiao
4 juta = si tiao
5 juta = go tiao
6 juta = lak tiao
7 juta = cit tiao
8 juta = pek tiao
9 juta = kau tiao
10 juta = cap tiao
dst … + tiao
50 juta = go cap tiao
100 juta = cepek tiao
500 juta = gopek tiao
TEST:
Untuk menguji kemampuan anda akan angka-angka di atas anda dapat melakukan hal berikut.
Isi titik sesuai dengan ingatan anda.
1. CENG GO = …..?
2. SA TIAO POAH = …….?
3. SE CENG = …..?
4. JI GO TUN = ….?
5. LAK PEK TIAO =…..?
6. NO CENG GO = …..?
7. GO BAN = ….?
8. BAN GO = ….?
9. PEK JI GO = ….?
10. LAK BAN = ….?
JAWABAN : (Tinggal diblog)
1. CENG GO = 1500
2. SA TIAO POAH = 3 Juta Setengah
3. SE CENG = Seribu
4. JI GO TUN = 25 perak
5. LAK PEK TIAO = 600 juta
6. NO CENG GO = 2500
7. GO BAN = 50 ribu
8. BAN GO = 15 ribu
9. PEK JI GO = 125 ribu
10. LAK BAN = 60 ribu

Friday, July 13, 2012

Dasar Manajemen

General Manajemen

1.       Manajemen Keuangan
2.       Manajemen Sumber Daya Alam
3.       Manajemen Transfort
4.       Manajemen Pergudangan/Logistik
5.       Manajemen Pemasaran
6.       Manajemen Informasi
7.       Manajemen Resiko

Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan bersama dengan menggunakan atau melalui orang lain dengan memanfaatkan sumber-sumber manajemen yang efektif dan efisien.

Kenapa perlu manajemen ?
==== jawaban yang cukup mudah ==== Hal ini dikarenakan tidak lah lain supaya proses pencapaian tujuan menjadi lebih terkendali, efektif dari segi penggunaan dan efisien dari segi biaya, sehingga tujuan menjadi tercapai sesuai keinginan atau bahkan melebihi dari hal yang diinginkan.
Lalu, adakah kegunaan lain ?
==== tentu ====
MENGINGAT
Product Risk Saker, Fase kehidupan, baik kehidupan perusahaan maupun kehidupan manusia.
Dikatakan fase kehidupan karena hal ini menggambarkan suatu proses yang terjadi di lapangan terhadap perusahaan atau badan usaha dalam menjalankan proses usahanya. Adapun tahapannya, yakni :
1.       Fase Tumbuh > Perusahaan tumbuh, memulai bisnisnya.
2.       Fase Berkembang > Perusahaan mengalami surplus dalam bisnis.
3.       Fase Dewasa > stlh berkembang menjadikan perusahaan dewasa, jaya, makmur.
4.       Fase Penurunan > tentu adanya penurunan stelah terjadi kejayaan
5.       Fase Kejenuhan > jenuh karena bisnis mulai menurun
6.       Mati > tidak ada lagi kegiatan uasaha
Melihat uraian tersebut, setiap perusahaan pasti mengalami hal yang demikian. Lantas, apakah kaitannya dengan manajemen ??? hal ini tentu berkaitan karena manajemen dapat mempengaruhi fase-fase tersebut. Misalnya dengan manajemen yang baik, tentu proses perkembangan akan menjadi cepat untuk mencapai fase dewasa dan akan lebih lambat ke fase kejenuhan, begitupun sebaliknya.
Hanya itu saja ???
=== tentu tidak === bukan kah tujuan utama dari kegiatan bisnis itu adalah untuk kontinuitas, disamping menjapai profit semaksimal mungkin dengan modal tertentu. Maka dari itu, untuk mencapai kontinuitas perlu manajemen. Sehingga siklus tersebut ditambahkan menjadi :
1.       Fase Tumbuh > Perusahaan tumbuh, memulai bisnisnya.
2.       Fase Berkembang > Perusahaan mengalami surplus dalam bisnis.
3.       Fase Dewasa > stlh berkembang menjadikan perusahaan dewasa, jaya, makmur.
4.       Fase Penurunan > tentu adanya penurunan stelah terjadi kejayaan
5.       Fase Kejenuhan > jenuh karena bisnis mulai menurun
6.       Mati > tidak ada lagi kegiatan uasaha
7.       Memodifikasi
Memodifikasi artinya merefresh kembali apakah faktor yang menjadikan kemunduran, jelas bahwa peran manajemen yang baik sangat diperlukan.

Masih banyak peran lain dari manajemen, tapi nanti akan kita bahas lagi ya....

Setelah disinggung sedikit mengenai manajemen, lalu perlu diketahui apa saja yang dapat manfaatkan manajer selaku orang yang memanajemen perusahaan, agar tujuan dapat tercapai. Hal demikian yakni :
1.       Sumber Daya Perusahaan
2.       Sumber Manajemen

1.         Sumber daya perusahaan meliputi hal-hal yang terkandung dalam struktur organisasi perusahaan. Tentu setiap struktur organisasi memiliki relief yang berbeda meski dalam range perusahaan yang sama. Dengan kata lain, yang dikatakan sumber daya perusahaan adalah orang yang dapat dimanfaatkan dalam perusahaan, seperti dirut, manajer, dll.

Hal lain yang perlu diingat, kenapa diadakan suatu spesifikasi sehingga menjadikan sumber daya perusahaan, yakni dikarenakan keterbatasan, keterbatasan ilmu, waktu, fisik, dan ingatan, untuk mengerjakan semuanya. Maka dari itu dibentuk spesifikasi sendiri.
2.         Sumber manajemen meluputi : 6M
a.       Man (orang)
b.      Money (uang)
c.       Mechine (mesin)
d.      Material (bahann baku)
e.      Method (metode)
f.        Market (pasar)

Pemanfaatan sumber daya perusahaan dan sumber-sumber manajemen dengan menggunakan fungsi-fungsi manajemen, yaitu :
                   Planning >> Organizing >> Leading>> Controlling >>> TUJUAN

1.       Planning (perencanaan)
Suatu fungsi dimana manajemen atau manajer, orang yang memanajemen, melakukan perancangan perkiraan-perkiraan hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan, baik dari segi metode yang digunakan, maupun fasilitas untuk pelaksanaannya sehingga pencapaian tujuan menjadi efektif dan efisien.
2.       Organizing (pengorganisasian)
Pengorganisasian adalah fungsi manajemen dimana tujuannya adalah untuk mengaplikasikan teknis yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan kepada sumber-sumber manajemen maupun sumber daya perusahaan. Dimana dalam fungsi ini sumber manajemen dan sumber daya perusahaan tersebut harus diseleksi terlebih dahulu supaya dapat didelegasikan kepada teknisi yang tepat.
3.       Leading (kepemimpinan)
Setelah diorganisasikan, manajemen atau orang yang memanajemen, melakukan tindakan kepemimpinan, mengendalikan, dan membuat keputusan, supaya teknisi yang dibebankan tanggunngjawab melakukan tugas sesuai jalur yang ditetapkan, hal yang demikian  disebut fungsi kepemimpinan.
4.       Controlling (pengawasan)
Controlling adalah fungsi manajemen yang tujuannya untuk mengawasi teknisi supaya bekerja sesuai dengan keputusan atau cara yang selayaknya dan apabila terjadi penyimpangan manajemen perlu meluruskannya.




                                                                                             
                                                                                                           Created  By Gusti Pares
                                                                                                        Sumber : Drs. Adlyn Kamarrudin



Sunday, July 8, 2012

T A N D A__ K I A M A T


By Gusti Pares
                                                            Pembimbing >> Rizarullah Santoso

A.       Tanda Kecil
1.           Ketika manusia meninggalkan sholat
2.         Bila sifat amal lenyap
3.         Bila berdusta dihalalkan
4.         Bila riba dimakan manusia
5.         Bila praktik suap meraja-rela
6.         Bila bangunan tinggi bermunculan
7.          Bila manusia memperturutkan hawa nafsu
8.          Bila manusia menjual agama untuk membeli dunia
9.         Bila menumpahkan darah dianggap perkara ringan
10.      Bila perilaku lembut dianggap kehinaan
11.        Bila perilaku zalim dianggap kebanggaan
12.       Bila pemimpin dan pembesar adalah paling buruk perilakunya (akhlaknya)
13.       Bila seorang cendikiawan adalah seorang yang fasik (buruk)
14.       Bila pembantu para pemimpin adalah orang yang fasik
15.       Bila kezaliman meraja-rela
16.       Bila perceraian banyak terjadi
17.       Bila muncul fenomena kematian mendadak
18.       Bila mushaf[1] al-Qur’an disusun dengan indah-indah
19.       Bila masjid dibangun megah-megah
20.    Bila mimbar masjid dibuat tinggi
21.       Bila perjanjian banyak dilanggar secara sepihak
22.     Bila peralatan musik banyak dibunyikan
23.     Bila khamar banyak diminum
24.     Bila zinah meraja-rela
25.     Bila penghianat diberi kepercayaan/dijadikan pemimpin
26.     Bila orang amanah dianggap penghianat
27.      Bila istri berpartisipasi dalam bisnis suami untuk harta dunia
28.      Bila salam tidak diberikan kepada orang yang tidak dikenal
29.     Bila pasar saling berdekatan
30.    Bila manusia mengenakan bulu domba untuk hati serigala
31.       Bila hati manusia lebih busuk dari bangkai
32.     Bila manusia berpikiran tidak ada imam mahdi, ....

Sejauh ini, coba renungkan ? apakah semuanya saat ini semuanya telah ada ?
Lalu jadikanlah renungan untuk kita semua.... agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. >>> cc : ukhuwahfeunsri.blogspot.com





[1] Istilah Mushhaf sendiri dibentuk bahasa Dari Kata shahîfah; bentuk jamaknya shahâ'if, shuhuf. Menurut Ibnu Duraid dalam Jumhurah al-lughah, shahîfah adalah kulit berwarna keputihan atau Yang lembaran / lempengan Tipis, untuk tempat menulis tulisan Adapun * Menurut al-Jauhari dalam Ash-.. Shihah fi al-lughah, shahîfah adalah al-kitab. Jadi, secara bahasa shahîfah-jamaknya shuhuf-BISA diartikan lembaran-lembaran tulisan.