Tuesday, April 17, 2012

Ananlisis Neraca Pembayaran


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
MATA KULIAH : PENGANTAR EKONOMI MAKRO ; ANALISIS NERACA PEMBAYARAN
DOSEN              : MARDALENA, S.E., M. Si.
MAHASISWA   : GUSTI PARES
NIM                    : 01111003037


ANALISIS NERACA PEMBAYARAN

Pendahuluan
            Analisis berkenaan neraca pembayaran adalah hal yang perlu bagi mahasiswa fakultas ekonomi untuk dipelajari dalam mata kuliah pengantar ekonomi makro. Hal ini disebabkan dalam sistem ekonomi terbuka atau ekonomi yang menjalankan kegiatan ekpor dan impor, artinya memilih jalan untuk berhubungan ekonomi dengan negara – negara lain, seperti Indonesia saat Ini. neraca pembayaran perlu dianalisis karena apabila neraca pembayaran mengalami tidak keseimbangan, suatu kondisi dimana uang yang dibayarkan dari negara itu lebih besar dibandingkan dengan uang yang diterima dari negara lain, besar pasak daripada tiang, kondisi ini menimbulkan berbagai macam dampak negatif, seperti ; kurs valuta asing yang tidak stabil, kondisi ekonomi menjadi menurun perkembangannya, aliran uang berpindah keluar negeri, hingga pendapatan rata – rata masyarakat menjadi menurun. Maka dari itu untuk menyikapi masalah tersebut, perlu dianalisis berkenaan dengan neraca pembayaran.

Analisis Neraca Pembayaran ; Pembahasan
  1. Neraca Pembayaran :
a.       Bentuk Dasar Neraca Pembayaran
b.      Defisit dan Surplus dalam Neraca Pembayaran
  1. Kurs Valuta Asing
  2. Kebijakan Pemerintah

Penjabaran :
  1. Neraca Pembayaran
Neraca pembayaran adalah suatu catatan aliran keuangan yang menunjukkan nilai transaksi perdagangan dan aliran dana yang dilakukan di antara suatu negara dengan negara lain dalam satu tahun tertentu[1].  Atau neraca pembayaran dapat didefinisikan sebagai suatu ringkasan pembukuan yang menunjukkan aliran pembayaran yang dilakukan dari negara – negara lain ke dalam negeri, dan dari dalam negeri ke negara – negara lain dalam satu tahun tertentu[2]. Neraca pembayaran dapat dibedakan menjadi dua bagian utama, yakni neraca berjalan dan neraca modal.
NERACA BERJALAN
Neraca berjalan mencatat transaksi, seperti :
a.       ekspor dan impor barang tampak
b.      ekspor dan impor jasa (atau barang tak tampak)
c.       pembayaran pindahan neto ke luar negeri
Berikut penjabarannya :
a.       Nilai Ekspor dan Impor Barang Tampak
Barang tampak adalah barang yang dapat diraba oleh pancaindra atau benda yang dapat dilihat, diraba, ataupun dirasakan, keberadaannya. Jadi yang dimaksudkan ekpor dan impor barang tampak adalah suatu kegitan dimana suatu negara menjual atau mengekspor dan menerima (impor) barang yang nyata baik bentuk, rasa, ataupun dapat terlihat oleh pancaindra. Adapun transaksi ini meliputi hasil – hasil pertanian/ sektor real, barang – barang produksi industri, ataupun barang – barang sektor tambang, maupun barang lainnya yang bentuknya dapat dilihat, diraba, maupun dirasakan, tampak. Kemudian neraca (perbedaan antara ekspor dan impor dari perdagangan tamapk yaitu perdagangan dalam barang – barang tampak, dinamakan neraca perdagangan[3]. Apabila nilai neraca positif, artinya ekpor atau penerimaan negara melebihi dari pada impor(pembayaran negara), begitu juga sebaliknya.
b.      Nilai Eksor dan Impor Barang Tak Tampak
Ekspor dan impor barang tak tampak adalah kebalikan daripada barang tampak. Artinya ekspor dan impor barang tak tampak adalah suatu kegiatan ekonomi terbuka, dimana objeknya itu merupakan barang – barang yang tidak berwujud, tetapi dapat dirasakan. Adapun transaksi yang termasuk ke dalam neraca ekpor dan impor barang tak tampak yaitu pembayaran biaya pengangkutan dan asuransi dari barang – barang tempak yang di ekpor atau di impor, perbelanjaan para pelancong, dan pendapatan berinvestasi (bunga, keuntungan, maupun deviden). Kemudian neraca perdangangan tak tampak yaitu, nilai bersih dari ekspor dan impor jasa – jasa, dinamakan neraca jasa. Neraca jasa suatu negara yang positif berarti negara tersebut lebih banyak menjual jasa keluar negeri dari membelinya dari negara – negara lain. Dan apabila negatif seperti neraca perdagangan, yakni disebabkan karena lebih banyak membeli dari pada menjual ke negara lain.
c.       Pembayaran Pindahan
Yang dimaksudkan pembayaran pindahan ini adalah aliran uang yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan swasta dimana penerimanya tidak perlu menukarkan dengan barang dan jasa, contohnya seperti bantuan korban gempa di jepang, dari indonesia. Mengirimkan uang untuk membiayai perbelanjaan anak – anak bersekolah di luar  negara adalah contoh lain[4].
NERACA MODAL
Neraca modal meliputi dua golongan transaksi, yaitu aliran modal jangka panjang dan aliran modal keuangan swasta[5].
a.       Aliran Modal Jangka Panjang
Aliran modal jangka panjang meliputi dua jenis aliran, yakni aliran modal resmi dan investasi langsung dari pihak swasta ke negara – negara lain. Aliran modal resmi adalah pinjaman dan pembayaran di antara badan – badan pemerintah dari suatu negara ke negara – negara lain. Sedangkan aliran investasi langsung oleh pihak swasta adalah penanaman modal langsung, yaitu investasi berupa mendirikan perusahaaan, terutama perindustrian. Kemudian modal yang dibelanjakan diperoleh dari negara asal perusahaan tersbut. Selanjutnya dalam aliran modal jangka panjang, perbedaan di antara modal jangka panajng yang diterima dari luar negeri dengan modal yang dibayarkan ke dalam negeri dinamakan neraca modal jangka panjang. Neraca modal jangka panjang bernilai positif apabila lebih banyak modal yang diterima ke dalam negeri daripada yang dibayarkan. Dengan positifnya neraca modal jangka panjang, aliran seperti ini dapat membantu memperkukuh neraca pembayaran karena pertumbuhan ekonomi menjadi meningkat saat banyak modal yang masuk ke suatu perekonomian. Disamping itu, dapat meningkatkan perbelanjaan pembangunan pemerintah dan investasi sektor swasta.
b.      Aliran Modal Swasta dan Kesilapan-Ketinggalan
Dua akun penting lain dalam neraca pembayaran meliputi akun modal swasta dan kesilapan atau ketinggalan. Modal swasta adalah aliran –aliran modal dalam dalam bentuk tabungan atau investasi keuangan yang cepat ditukarkan kembali kepada valuta asal atau valuta lainnya[6]. Aliran ini disebut sebagai hot money dikarenakan mengalir dengan mudah dan dalam waktu yang singkat.
Kemudian yang dimaksudkan dengan akun kesilapan-ketinggalan merupakan akun yang menaksir besarnya aliran uang yang tidak dapat dicatat. Dalam setiap neraca harus ada akun kesilapan-ketinggalan karena mungkin saja keliru dalam mengakui pembayaran ataupun penerimaan dalam transaksi ekonomi terbuka. Misalnya anggaran telah disiapkan sebesar Rp 100.000 kemudian setelah bertansaksi sisa anggaran sebesar Rp 20.000, artinya uang yang dibenajakan sebesar Rp 80.000, tetapi fraktur yang didapat hanya berjumlah Rp 75.000, maka dari itu, untuk mencatat jumlah sebesar Rp 5.000 akan dimasukkan ke akun kesilapan-ketinggalan.
NERACA KESELURUHAN
Selain dari neraca berjalan dan modal, masih ada satu lagi neraca dalam neraca pembayaran, yakni neraca keseluruhan. Neraca keseluruhan adalah aliran pembayaran dan investasi yang masuk ke dalam suatu negara dalam suatu waktu tertentu dan aliran pembayaran dan investasi yang keluar ke negara – negara lain. Neraca keseluruhan bernilai positif apabila aliran pembayaran dan investasi ke dalam negeri itu lebih besar dibandingkan aliran pembayaran dan investasi ke luar negeri.
Apabila neraca keseluruhan bernilai positif maka bank sentral mendapat pertambahan cadangan valuta asing karena negara lain membayar dan melakukan investasi ke dalam sutu perekonomian tersbut, begitupun sebaliknya. Dengan banyaknya cadangan valuta asing, ini menggambarkan bahwa perekonomian di suatu ngara tersebut mengalami surplus dalam pertumbuhannya.

KESEIMBANGAN NERACA PEMBAYARAN
Apabila dicermati dari uraian diatas, maka dapat dikonklusikan bahwa neraca pembayaran yang seimbang, yakni aliran uang dan modal ke luar negeri sama dengan aliran uang dan modal ke dalam negeri, ini tidak menjamin apakah neraca berjalan akan selalu seimbang, dan begitu pula neraca modal. Sebab neraca pembayaran menjadi tidak seimbang dikarenakan ketidakseimbangan dalam neraca berjalan dan neraca modal akan diseimbangkan oleh perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki bank sentral[7]. Berikut alasannya :
                        Neraca berjalan                                   + 50
                        Neraca modal jangak panjang             + 10
                        Modal keuangan swasta                      -  30
                        Neraca Keseluruhan                         + 30
Perubahan cadangan mata
                        uang asing bank sentral                       -  30
Contoh di atas menggambarkan bahwa neraca berjalan mengalami surplus +50 artinya aliran penerimaan lebih besar dibandingkan aliran pembayarn impor keluar negeri. Aliran modal jangka panjang mangalami surplus +10, ini juga berarti modal yang ditanamkan ke dalam negeri lebih besar dibandingkan aliran modal keluar negeri. Serta dalam aliran modal keuangan swasta mengalami defisit -30, yang berarti modal swasta keluar negeri lebih besar alirannya diabndingkan aliran modal swasta ke dalam negeri. Ini menyebabkan neraca keseluruhan hanya memperoleh sebesar surplus 30. Surplus dalam neraca keseluruhan ini berarti : negara yang bersangkutan menerima +30 dari negara – negara lain. Ini menyebabkan cadangan valuta asing bank sentral bertambah dengan jumlah yang sama. Akibat dari pertambahan cadangan ini maka neraca pembayaran telah menjadi seimbang. ( catatan ; tanda negatif dalam neraca pembayaran dalam perubahan valuta asing menggambarkan pertambahan cadangan, dan begitupun sebaliknya).

NERACA PEMBAYARAN DAN PERDAGANGAN INDONESIA
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk keseluruhan tahun 2011 mengalami surplus sebesar $11,9 miliar. Transaksi berjalan dan transaksi modal dan keuangan masing-masing memberikan kontribusi surplus sebesar $2,1 miliar dan $14,0 miliar. Surplus transaksi berjalan ditopang oleh kinerja ekspor yang masih mampu tumbuh cukup tinggi kendati dihadapkan pada permintaan dunia yang melemah. Sementara itu, surplus transaksi modal dan keuangan didukung oleh arus masuk investasi langsung asing (PMA) dan penarikan utang luar negeri sektor swasta yang meningkat seiring iklim investasi yang kondusif dan kestabilan makroekonomi yang terjaga. Dengan perkembangan tersebut, jumlah cadangan devisa bertambah dari $96,2 miliar pada akhir 2010 menjadi $110,1 miliar pada akhir 2011 atau setara dengan 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Secara kuartalan, NPI menunjukkan kinerja positif pada triwulan I dan II, antara lain karena harga komoditas ekspor yang dalam periode tersebut masih tumbuh tinggi dan arus masuk investasi portofolio asing yang masih cukup deras. Memasuki triwulan III, NPI berubah menjadi defisit, terutama akibat imbas negatif dari krisis keuangan di Eropa yang memicu terjadinya arus keluar investasi portofolio asing. Tekanan negatif terhadap NPI kemudian berkurang pada triwulan IV setelah investasi portofolio asing masuk kembali dan investasi langsung asing serta penarikan utang luar negeri swasta meningkat secara signifikan. Meskipun secara keseluruhan membaik, kinerja NPI pada triwulan IV ditandai oleh terjadinya defisit pada transaksi berjalan. Defisit yang relatif kecil tersebut (sekitar 0,4% dari PDB) terjadi karena impor terus meningkat sejalan dengan kuatnya permintaan domestik sedangkan ekspor menurun akibat permintaan dunia dan harga komoditas yang melemah.

Sumber : Laporan Neraca Pembayaran Indonesia – Reaslisasi Triwulan IV 2011 SATUAN 2009

  1. Kurs Valuta Asing

Kurs valuta asing atau kurs mata uang asing yang menunjukkan harga atau nilai mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain, didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah yang dibutuhkan, untuk memperoleh satu unit mata uang asing. Kurs valuta asing pada setiap negara selalu mengalami perubahan baik itu menurun atau pun mengalami surplus jumlahnya, hal ini dipengaruhi faktor – faktor yang menentukan kurs asing, seperti :
a.       Berdasarkan permintaan dan penawaran mata uang asing dalam pasar bebas
b.      Ditentukan oleh pemerintah

PENENTUAN KURS DALAM PASAR BEBAS

Kurs sangat dipengaruhi oleh pasar bebas, karena konsepnya kurs asing terjadi karena ada hubungan perekonomian antara suatu negara dengan negara lain, disebut sebagai pasar bebas. Adapun penentu kurs asing dalam pasar bebas yaitu :

Permintaan Mata Uang Asing

Permintaan mata uang asing dipengaruhi nilai kurs asing tersebut. Semakin tinggi harga kurs asing, maka akan semakin sedikit permintaan atas uang tersebut. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah nilai kurs asing tersbut, maka permintaannya akan semakin banyak. ( Sengaja dibuat, anti kopas )Ilustrasinya begini, misalnya harga dolar amerika naik, maka barang – barang yang diimpor dari amerika ke indonesia harganya juga naik. Dengan (asli a.n. Gusti Pares/ FE/Akuntansi unsri ) naiknya harga maka sesuai dengan teori konsumsinya juga permintaan atas barang tersebut juga menurun. Kaitannya, apabila permintaan mata uang asing dalam pasar bebas menurun, maka kurs valuta asing juga semakin menurun, dikarenakn harga kurs asing naik.

Penawaran Mata Uang Asing

Penawaran akan mata uang asing, sama halnya dengan hukum penawaran dalam mikro ekonomi, semakin tinggi harga tentu akan semakin tinggi penawaran akan mata uang asing tesebut dan semakin rendah harga mata uang asing, semakin sedikit penawaran mata uang tersebut.

PENENTUAN KURS PERTUKARAN OLEH PEMERINTAH

Pemerintah dapt mencampuri dalam menentukan kurs valuta asing, tujuannya adalah untuk memastikan kurs yang wujud tidak akan menimbulkan dampak yang buruk ke atas perekonomian. Kurs pertukaran yang ditetapkan oleh pemerintah adalah berbeda dengan kurs yang ditentukan oleh pasar bebas. Perbedaan antara pertukaran yang ditetapkan oleh pemerintah dan pasar bebas, dipengaruhi oleh kebijakan dan keputusan pemerintah mengenai kurs yang paling sesuai untuk tujuan – tujuan pemerintah dalam menstabilkan dan mengembangkan perekonomian.

PERUBAHAN – PERUBAHAN KURS

Kurs dalam pasar bebas dapat mengalami dua bentuk perubahan, yakni :
Efek Kenaikan Permintaan

Kurs dipengaruhi oleh kenaikan permintaan yang menyebabkan kurs dalam pasar bebas mengalami bentuk perubahan. Perubahan ini salah satunya disebabkan karena kenaikan atas permintaan. Apabila kenaikan permintaan naik, maka kuantitas valuta asing juga meningkat. Dengan meningkatnya permintaan otomatis akan menaikkan harga valuta asing tersebut.

Efek Perubahan Penawaran

Berkebalikan dengan efek kenaikan permintaan, perubahan akan penawaran akan menyebabkan kuantitas barang naik sedangkan harga akan turun. Hal ini disebabkan karena apabila penawaran valuta asing naik. Apabila penawaran valuta asing naik, maka kegunaan valuta asing sedikit diputarkan peredarannya. Dengan sedikit pertukarannya, maka akan menyababkan penurunan harga.


FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURS

Perubahan dalam Citaras Masyarakat

Citarasa masyarakat mempengaruhi corak konsumsi mereka. Maka perubahan citaras masyarakat akan mengubah corak konsumsi mereka atas barang – barang yang diproduksikan di dalam atau pun yang diimpor dari luar negeri. Perbaikan kualitas barang – barang di dalam negeri akan mengurangi impor barang, sedangkan perbaikan kualitas barang – barang yang diimpor menyebabkan keinginan masyarakat untuk mengimpor bertambah besar. Perubahan – perubahan ini akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing.

Perubahan Harga Barang Ekspor dan Impor

Apabila harga barang ekspor naik, maka valuta asing tentu banyak digunakan dalam pasar bebas, dengan banyaknya digunakan valuta asing dalam pasar bebas maka akan menaikkan valuta asing. Begitupun sebaliknya, dengan kenaikan harga barang impor, maka impor menjadi turun, dan valuta asing naik. Maka dari itu, perubahan harga – harga barang ekspor dan impor akan mempengaruhi kurs.

Inflasi

Inflasi pada umumnya berlaku menurunkan kurs valuta asing. Hal ini disebabkan karena inflasi menyebabkan harga – harga di dalam negeri lebih mahal dibandingkan harga – harga diluar negeri dan oleh sebab itu, inflasi cenderung menambahkan impordan dengan bertambahnya impor maka kurs valuta asing menurun. Kemudian, inflasi menyebabkan harga – harga barang ekspor menjadi lebih mahal, oleh karena itu inflasi berkecenderungan mengurangi ekspor, dengan berkurangnya ekspor akan menimbulkan kekurangan penawaran valuta asing ( harga mata uang negara yang mengalami inflasi merosot).

Perubahan Suku Bunga dan Tingkat Pengembalian Investasi

Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi sangat penting peranannya dalam mempengaruhi aliran modal. Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah cenderung akan menyebabkan modal dalam negeri mengalir keluar negeri. sedangkan dengan suku bunga dan tingakt pengembalian investasi yang tinggi akan meyebabkan modal luar negeri masuk ke negara itu. Apabila lebih banyak modal mengalir ke suatu negara, permintaan akan mata uangnya menjadi bertambah, maka nilai mata uang tersebut bertambah. Nilai mata uang suatu negara akan merosot apabila lebih banyak modal negara dialirkan ke luar negeri karena suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi di negara – negara lain.

Pertumbuhan Ekonomi

Efek yang akan diakibatkan dari pertumbuhan ekonomi kepada nilai mata uangnya tergantung kepada corak pertumbuhan ekonomi yang berlaku. gpares.blogspot.com Apabila kemajuan itu terutama diakibatkan atas perkembangan ekspor, maka permintaan ke atas mata uang negara itu bertambah lebih cepat dari penawarannya dan oleh karenanya nilai mata uang negara itu naik. gusti pares, akuntansi unsri Akan tetapi, apabila kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat dai ekspor, penawaran mata uang negara tersebut bertambah lebih cepat bertambah dari permintaanya dan oleh karenanya nilai mata uang negara tersebut akan merosot.


  1. Kebijakan Pemerintah dalam Ekonomi Terbuka

Dalam ekonomi terbuka masalah yang dihadapi pemerintah bertambah lebih rumit. Pada ekonomi tertutup, pemerintah hanya melakukan kebijakan untuk mengatasi masalah inflasi dan pengangguran. Sedangkan dalam ekonomi terbuka, tidak hanya pemerintah memikirkan bagaimana mengatasi masalah tersebut, tetapi ditambah dengan masalah ketidakseimbangan neraca pembayaran dan cadangan kurs valuta asing. Tetapi pada dasarnya masalah yang dihadapi setiap negara yang menjalani perekonomian terbuka dikarenakan hal berikut :
a.       Perekonomian mengalami pengangguran tetapi surplus neraca pembayaran
b.      Perekonomian mengalami inflasi tetapi surplus neraca pembayaran
c.       Perekonomian mengalami pengangguran disamping itu defisit neraca pembayaran
d.      Perekonomian mengalami inflasi disamping itu defisit neraca pembayaran

Dalam kasus (a) dan (b) masih menguntungakan karena neraca pembayaran mengalami surplus, maka perlu dipikirkan hanyalah megatasi masalah pengagguran dan inflasi. Tetapi beda halnya dengan masalah yang serentak seperti masalah dalam (c) dan (d). Maka untuk menghadapi masalah yang serentak dapat dilakukan :
a.       Kebijakan memindahkan perbelanjaan untuk masalah (c)
b.      Kebijakan mengurangkan perbelanjaan untuk masalah (d)

Kebijakan Memindahkan Perbelanjaan

Yang dimaksudkan Kebijakan Memindahkan Perbelanjaan adalah langkah – langkah pemerintah untuk mengatasi masalah defisit dalam neraca pembayaran yang akan mengakibatkan pertambahan ekspor dan pengurangan impor. Kebijakan memindahkan perbelanjaan dijalankan apabila ; defisit neraca pembayaran wujud ketika perekonomian juga mneghadapi masalah pengangguran. Kebijakan memindahkan impor dan mendorong konsumsi barang dalam negeri adalah seperti yang dinyatakan dibawah ini :
a.       Melakukan pembatasan impor Ini dapat dilakukan dengan menaikkan pajak impor. Disamping itu dapat pula dijalankan dengan menggunakan kuota dan melakuakan kampanye untuk membeli barang dalam negeri.
b.      Menekan (menggunakan valuta asing) Pemerintah (melaui bank sentral) mencatat penggunaan valuta asing. Masyarakat dan para pengusaha haruslah menerengkan tujuan mereka membeli valuta asing. Pemerintah lebih mengutamakan penggunaan valuta asing untuk mengimpor barang keperluan pokok dan bahan mentah sektor industri dan tidak mendorong usaha mengimpor barang – barang mewah.
c.       Menurunkan nilai mata uang (devaluasi) Langkah ini menyebabkan barang impor menjadi lebih mahal dan akan mengurangi impor. Sebaliknya barang ekspor menjadi murah di pasaran luar negeri dan akan menambah ekspor.


 Langah menambah ekspor dan sehingga menambah penerimaan valuta asing, adalah :
a.       Memberikan insentif fiskal dan moneter untuk menambahkan kegiatan dalam produksi barang ekspor Intensif – intensif ini antara lain adalah membina kawasan perusahaan dan kawasan bebas pajak, memberikan kemudahan pinjaman atau memberi subsidi ekspor.
b.      Mewujudkan kestabilan upah dan harga Pertambahan ekspor sangat tergantung kepada kemampuan ekspor negara untuk bersaing di luar negeri. salah satu faktor yang menentukan kapasitas bersaing adlah biaya produksi yang rendah. Untuk memastikan agar biaya produksi tetap rendah, upah dan harga – harga barang dalam negeri perlu distabilkan.
c.       Menurunkan nilai valuta Seperti telah diterangkan diatas menurunkan nilai valuta bukan saja dapt mengurangkan impor tetapi juga menambah ekspor.


Kebijakan Pengurangan Perbelanjaan

Yang dimaksudkan Kebijakan Pengurangan Perbelanjaan adalah langakh – langkah pemerintah untuk mengatasi masalah kurangan dalam neraca pembayaran dengan mengurangi perbelanjaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi negara.

Kebijakan Pengurangan Perbelanjaan dilakukan apabila :
a.       Perekonomian telah mencapai kesempatan kerja penuh dan disamping itu juga inflasi terwujud
b.      Dalam perekonomian terdapat defisit yang berkepanjangan dalam neraca pembayaran
Kebijakan Pengurangan Perbelanjaan akan menurunkan impor, akan tetapi ekspor tidak akan dipengaruhi oleh kebijakan ini.

Langkah – langkah Kebijakan Pengurangan Perbelanjaan :
a.       Menaikkan pajak pendapatan Pajak ini akan mengurangi pendapatan disposebel dan pengurangan ini akan mengurangi konsumsi rumah tangga.
b.      Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang Tujuan ini dapat dicapai dengan menjalankan kebijakan moneter, misalnya dengan menaikkan tingkat cadangan minimum dan menaikkan suku bunga bank. Pengurangan penawaran uang dan suku bunga akan mengurangi pengeluaran agregat.
c.       Mengurangi pengeluaran pemerintah Oleh karena pengeluaran pemerintah adalah sebagian dari pengeluaran agregat, maka pengurangan pengeluaran pemerintah akan mengurangi pengeluaran agregat. Langkah ini digolongkan sebagai kebijakan fiskal.


NB : DEVALUASI (PENURUNAN MATA UANG)

Devaluasi adalah tindakan pemerintah yang menurunkan nilai mata uangnya terhadap mata uang asing.

Efek Devaluasi[8]
a.       Ekspor akan bertambah, karena di pasaran luar negeri menjadi lebih mahal
b.      Impor berkurang, karena barang luar negeri menjadi lebih mahal
c.       Kenaikan ekspor dan pengurangan impor akan memperbaiki neraca pembayaran.
d.      Pendapatan nasional akan bertambah oleh karena (a) ekspor naik, (b) pengurangan impor menaikkan permintaan produk domestik, dan kenaikan yang diakibatkan oleh (a) dan (b) akan mendorong investasi.
e.       Mungkin inflasi berlaku, yaitu apabila kenaikan harga – harga barang industri dalam negeri. inflasi juga berlaku apabila devaluasi dilakuakn ketika perekonomian mengalami kemakmuran. Ini disebabkan kenaikan barang ekspor dan perkembangan kegiatan ekonomi yang lain diakibatkan oleh devaluasi akan menaikkan upah buruh dan harga – harga (oleh karena permintaan yang berlebihan).
f.       Diluar negeri mungkin melakukan langakah balasan dengan menggunakan halangan perdagangan impor (yang dikenakan ke atas ekspor negara yang mendevaluasikan valutanya) atau dengan melakukan devaluasi.

Syarat – syarat yang dibuthkan untuk menyukseskan devaluasi[9] :
a.       Ekspor negara itu elastis Hanya dalam keadaan hasil penjualan ekspor bertambah. Apabila permintaan luar negeri ke atas barang ekspor negara yang mendevaluasikan valutanya tidak elastis, devaluasi akan mengurangi penjualan ekspor.
b.      Permintaan impor negara itu tidak elastis apabila permintaan ekspor elastis, devaluasi mengurangi jumlah impor dengan tingkat yang lebih tinggi dari penurunan nilai mata uang. Maka pengeluaran ke atas barang impor akan menjadi lebih kecil dari sebelum devaluasi.
c.       Di dalam negeri tidak berlaku inflasi Apabila devaluasi mengakibatkan inflasi di dalam negeri, barang ekspor dan barnag buatan dalam negeri akan mengalami kenaikan harga. Apabila tingkat kenaikan harga lebih besar dari tingkat devaluasi, padda akhirnya harga ekspor menjadi mahal dan barang impor menjadi murah dari sebelum devaluasi. Pada akhirnya negara itu tidak memperoleh sembarang keuntungan dari devaluasi.
d.      Negara lain tidak melakukan balasan dan melakuakan devaluasi pula Apabila negara – negara lain melakuakn tindakan yang sama, devaluasi tidak akan memberikan efek kepadd neraca pembayaran dan perekonomian negara. Langkah seperti itu akan dijalanakan apabila negara lain tersebut merupakan partner dagang yang sangat penting.


[1] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 390.
[2] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 16.
[3] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 391.
[4] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 391.
[5] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 391.
[6] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 392.
[7] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 393.
[8] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 408.
[9] Sadono Sukirno, Makroekonomi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2010), hlm. 408 – 409.
Reaksi:

1 komentar:

Universitas Islam Indonesia said...

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii